Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Mei 2011

Prinsip Pengelolaan Makanan; Higiene Dan Sanitasi

Semua jenis materi kuliner perlu mendapat perhatian secara fisik serta kesegarannya terjami Prinsip Pengelolaan Makanan; Higiene dan Sanitasi

Prinsip Pengelolaan Makanan

1. Keadaan materi kuliner

Semua jenis materi kuliner perlu mendapat perhatian secara fisik serta kesegarannya terjamin, terutama bahan-bahan kuliner yang gampang membusuk atau rusak menyerupai daging, ikan, susu, telor, kuliner dalam kaleng, buah, dsb. Bahan kuliner yang baik kadang-kadang tidak gampang kita temui, lantaran jaringan perjalanan kuliner yang begitu panjang dan melalui jaringan perdagangan yang begitu luas. Salah satu upaya mendapat materi kuliner yang baik yakni menghindari penggunaan materi kuliner yang berasal dari sumber tidak terang (liar) lantaran kurang sanggup dipertanggung jawabkan secara kualitasnya.

2. Cara penyimpanan materi makanan

Tidak semua materi kuliner yang tersedia pribadi dikonsumsi oleh masyarakat. Bahan kuliner yang tidak segera diolah terutama untuk katering dan penyelenggaraan kuliner perlu penyimpanan yang baik, mengingat sifat materi kuliner yang berbeda-beda dan sanggup membusuk, sehingga kualitasnya sanggup terjaga. Cara penyimpanan yang memenuhi syarat higiene sanitasi kuliner yakni sebagai berikut:

a. Penyimpanan harus dilakukan ditempat khusus (gudang) yang higienis dan memenuhi syarat.

b. Barang-barang biar disusun dengan baik sehingga gampang diambil, tidak memberi kesempatan serangga atau tikus untuk bersarang, terhindar dari lalat atau tikus dan untuk produk yang gampang amis atau rusak biar disimpan pada suhu yang dingin.

3. Proses pengolahan

Pada proses atau cara pengolahan kuliner ada tiga hal yang perlu mendapat perhatian, yaitu:

a. Tempat pengolahan kuliner

Tempat pengolahan kuliner yakni suatu daerah dimana kuliner diolah, daerah pengolahan ini sering disebut dapur. Dapur memiliki peranan yang penting dalam proses pengolahan makanan, lantaran itu kebersihan dapur dan lingkungan sekitarnya harus selalu terjaga dan diperhatikan. Dapur yang baik harus memenuhi persyaratan sanitasi.

b. Tenaga pengolah kuliner / Penjamah Makanan

Penjamah kuliner berdasarkan Depkes RI (2006) yakni orang yang secara pribadi bekerjasama dengan kuliner dan peralatan mulai dari tahap persiapan, pembersihan, pengolahan pengangkutan hingga penyajian. Dalam proses pengolahan makanan, kiprah dari penjamah kuliner sangatlah besar peranannya. Penjamah kuliner ini memiliki peluang untuk menularkan penyakit. Banyak nanah yang ditularkan melalui penjamah makanan, antara lain Staphylococcus aureus ditularkan melalui hidung dan tenggorokan, kuman Clostridium perfringens, Streptococcus, Salmonella sanggup ditularkan melalui kulit. Oleh alasannya itu penjamah kuliner harus selalu dalam keadan sehat dan terampil.

c. Cara pengolahan kuliner

Cara pengolahan yang baik yakni tidak terjadinya kerusakan-kerusakan kuliner sebagai tanggapan cara pengolahan yang salah dan mengikui kaidah atau prinsip-prinsip higiene dan sanitasi yang baik atau disebut GMP (good manufacturing practice).

4. Cara pengangkutan kuliner yang telah masak

Pengangkutan makan dari daerah pengolahan ke daerah penyajian atau penyimpanan perlu mendapat perhatian biar tidak terjadi kontaminasi baik dari serangga, abu maupun bakteri. Wadah yang dipergunakan harus utuh, besar lengan berkuasa dan tidak berkarat atau bocor. Pengangkutan untuk waktu yang usang harus diatur suhunya dalam keadaan panas 60°C atau tetap masbodoh 4°C.

5. Cara penyimpanan kuliner masak

Penyimpanan kuliner masak sanggup digolongkan menjadi dua, yaitu daerah penyimpanan kuliner pada suhu biasa dan daerah penyimpanan pada suhu dingin. Makanan yang gampang membusuk sebaiknya disimpan pada suhu masbodoh yaitu < 4°C. Untuk kuliner yang disajikan lebih dari 6 jam, disimpan dalam suhu -5°C s/d -1°C. 

6. Cara penyajian kuliner masak

Saat penyajian kuliner yang perlu diperhatikan yakni biar kuliner tersebut terhindar dari pencemaran, peralatan yang dipakai dalam kondisi baik dan bersih, petugas yang menyajikan harus sopan serta senantiasa menjaga kesehatan dan kebersihan pakaiannya.

 

Semua jenis materi kuliner perlu mendapat perhatian secara fisik serta kesegarannya terjami Prinsip Pengelolaan Makanan; Higiene dan Sanitasi

Higiene dan Sanitasi

Pengertian higiene berdasarkan Depkes yakni upaya kesehatan dengan cara memelihara dan melindungi kebersihan individu subyeknya. Misalnya mencuci tangan untuk melindungi kebersihan tangan, basuh piring untuk melindungi kebersihan piring, membuang bab kuliner yang rusak untuk melindungi keutuhan kuliner secara keseluruhan.

Sanitasi kuliner yakni salah satu perjuangan pencegahan yang menitik beratkan acara dan tindakan yang perlu untuk membebaskan makanan dan minuman dari segala ancaman yang sanggup menganggu atau memasak kesehatan, mulai dari sebelum kuliner diproduksi, selama dalam proses pengolahan, penyimpanan, pengangkutan, hingga pada dikala dimana kuliner dan minuman tersebut siap untuk dikonsumsikan kepada masyarakat atau konsumen. Sanitasi kuliner ini bertujuan untuk menjamin keamanan dan kemurnian makanan, mencegah konsumen dari penyakit, mencegah penjualan kuliner yang akan merugikan pembeli, mengurangi kerusakan atau pemborosan makanan.

 

Referensi:

Depdiknas. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Hermiati, M.I. 2003. Higiene dan Sanitasi Makanan Pada Kantin Sekolah Dasar Sebelum dan Setelah dilakukan Pembinaan di Kecamatan Tanjungkarang Pusat Kota Bandar Lampung. Skripsi. Hal: 4-6

Indan, E. 2000. Ilmu Kesehatan Masyarakat. PT. Citra Aditya Bakti : Bandung

Juli, S.S. 2002. Kesehatan Lingkungan. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta

Kamis, 19 Mei 2011

Bahan Pencemar Kuliner Dan Penyakit Bawaan Makanan

Rantai proses pengolahan masakan dimulai dari sumber materi mentah  Bahan Pencemar Makanan dan Penyakit Bawaan Makanan

Rantai proses pengolahan masakan dimulai dari sumber materi mentah (pencemaran primer) sampai penyajian masakan (pencemaran sekunder). Dengan demikian pada setiap tahapan proses ini sanggup terjadi kontaminasi atau pencemaran terhadap materi atau masakan itu sendiri. Bahan cemaran terhadap masakan sanggup berupa:

a. Fisik: batu, kerikil, rambut, dll

b. Kimia: pestisida, insektisida, materi pengawet, dll

c. Biologi: bakteri, virus, jamur, benalu

Pencemaran sanggup menimbulkan terjadinya gangguan kesehatan yang disebut dengan penyakit bawaan penyakit atau foodborne illness atau yang paling sering dikenal sebagai ‘keracunan makanan’. Penyebab cemaran yang paling sering mengakibatkan problem kesehatan yakni pencemaran oleh bakteri.

Bakteri merupakan suatu mikroba kecil yang tidak sanggup dilihat dengan mata telanjang, namun hanya sanggup dilihat dengan mikroskop. Bakteri sanggup menimbulkan penyakit infeksi yang bersifat akut (mendadak) ataupun kronis (menahun). Bakteri sanggup hidup bila:

  1. Ada sumber makanan, khususnya protein
  2. Ada suhu yang sesuai; rentang suhu yang sesuai yakni 4-60 °C atau yang dikenal dengan nama ‘Zona Bahaya’
  3. Ada sumber air; kelembaban dan kandungan air yang tinggi

Ketiga hal di atas ditambah dengan waktu yang sesuai akan menciptakan kuman basil akan berkembang biak dengan cepat. Bakteri akan berkembang biak satu menjadi sejuta hanya dalam waktu 3-4 jam pada suhu zona ancaman ini. Makanan yang terpapar pada suhu zona ancaman lebih dari 4 jam sudah tidak layak konsumsi. Makanan disarankan sudah harus dikonsumsi semenjak 2 jam sehabis masakan matang. Beberapa basil sanggup mengeluarkan toksin atau racun yang menimbulkan penyakit. Toksin sanggup bertahan usang meskipun bakterinya sudah mati. Beberapa toksin bahkan sanggup bertahan pada suhu tinggi, sehingga sulit dihancurkan. Beberapa basil yang sering mengakibatkan pencemaran di antaranya: Salmonella; sering ditemukan di produk telur atau unggas, Clostridium; sering ditemukan pada masakan kaleng, kotoran tanah, Staphilococcus; ditemukan pada infeksi kulit, THT, dan abses termasuk jerawat, Entamoeba coli; ditemukan pada kotoran manusia.

Selain penyakit bawaan masakan yang bersifat infeksi, sanggup pula terjadi penyakit bawaan masakan yang bersifat:

  1. Alergi; badan menolak zat kandungan yang ada di dalam masakan (paling sering terjadi tanggapan protein tertentu)
  2. Intoksikasi; masuknya racun/toksin ke dalam badan baik alasannya yakni adanya toksin biologi (dari kuman) maupun toksin kimiawi (dari materi kimia atau proses kimia)

Prinsip dasar dari pencegahan penyakit bawaan masakan yakni dengan mencegah terjadinya cemaran atau kontaminasi terhadap makanan.

 

Referensi:

Depdiknas. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Hermiati, M.I. 2003. Higiene dan Sanitasi Makanan Pada Kantin Sekolah Dasar Sebelum dan Setelah dilakukan Pembinaan di Kecamatan Tanjungkarang Pusat Kota Bandar Lampung. Skripsi. Hal: 4-6

Indan, E. 2000. Ilmu Kesehatan Masyarakat. PT. Citra Aditya Bakti : Bandung

Juli, S.S. 2002. Kesehatan Lingkungan. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta

Selasa, 17 Mei 2011

Langkah Simpel Dalam Persiapan Masakan Yang Kondusif Bagi Kesehatan

Secara umum WHO telah menggariskan beberapa  Langkah Mudah dalam Persiapan Makanan yang kondusif bagi Kesehatan  

Secara umum WHO telah menggariskan beberapa 10 langkah simpel dalam mencegah penyakit/menyehatkan masakan atau dalam persiapan masakan yang kondusif sebagai berikut :

  1. Pilihlah masakan yang telah diproses

Pada beberapa makanan, menyerupai buah-buahan dan sayur-sayuran, kondisi terbaik yaitu bila dimakan mentah atau dalam keadaan alamiah, tetapi masakan lain tidak kondusif bila dimakan mentah, kecuali bila telah diproses. Sebagai contoh, belilah susu yang telah dipasteurisasi daripada susu mentah dan bila memungkinkan, pilihlah daging unggas yang telah di radiasi ionisasi. Ingat bahwa pemrosesan masakan bertujuan untuk meningkatkan keamanan dan memperpanjang masa kadaluwarsa. Beberapa masakan yang dikonsumsi mentah, menyerupai daun slada, perlu dicuci dengan sempurna.

  1. Masaklah masakan secara sempurna

Banyak masakan mentah, khususnya daging unggas, ternak, telur dan susu yang tidak dipasteurisasi, seringkali tercemar dengan patogen penyebab penyakit. Pemasakan yang tepat akan membunuh patogen, tetapi perlu diingat bahwa suhu pada seluruh cuilan makanan tersebut harus mencapai sedikitnya 70oC. Bila daging ayam yang telah dimasak masih mentah disekitar tulangnya, masukan kembali ke dalam alat pemanggang hingga daging tersebut benar-benar matang. Daging beku, ikan dan daging unggas harus dilepas-bekukan secara tepat sebelum dimasak.

  1. Makanlah segera masakan yang telah dimasak

Ketika masakan yang gres dimasak didinginkan hingga suhu kamar, mikroorganisme mulai berkembang biak. Semakin usang disimpan di suhu kamar, semakin besar resikonya. Supaya aman, makanlah masakan segera sehabis simpulan dimasak.

  1. Simpanlah masakan yang telah dimasak secara hati-hati

Jika Anda menyiapkan masakan lebih awal atau ingin menyimpan sisanya lebih dari 4-5 jam, simpanlah masakan dalam keadaan panas (di atas 60oC) atau masbodoh (di bawah 10oC).

  1. Panaskan kembali secara tepat masakan yang telah dimasak

Penyimpanan yang baik memperlambat pertumbuhan mikroorganisme bukan membunuhnya. Pemanasan kembali masakan hingga seluruh cuilan mencapai 70oC yaitu dukungan terbaik untuk melawan berkembangbiaknya mikrorganisme selama penyimpanan.

  1. Hindari kontak antara masakan mentah dengan masakan matang

Makanan matang sanggup tercemar oleh masakan mentah. Makanan matang sanggup juga tercemar melalui kontak yang tidak eksklusif melalui pisau dan ganjal papan potong yang sebelumnya dipakai untuk memotong daging ayam matang tanpa dicuci terlebih dahulu.

  1. Cucilah tangan sesering mungkin

Cucilah tangan secara sempurna, sebelum menyiapkan masakan dan setiap kali terhenti terutama jikalau Anda harus mengganti popok bayi atau harus ke kamar kecil. Setelah menyiapkan masakan mentah menyerupai ikan, daging ternak atau daging unggas, cucilah tangan Anda sebelum menangani masakan yang lain. Balutlah bila ada luka abses pada tangan Anda. Ingatlah bahwa binatang peliharaan sering sebagai pembawa patogen berbahaya, yang sanggup masuk ke masakan melalui tangan Anda.

  1. Jaga semoga dapur Anda selalu bersih

Permukaan dapur yang dipakai untuk menyiapkan masakan harus selalu bersih. Kain pembersih yang sering kontak dengan piring dan alat masak harus diganti setiap hari dan direbus sebelum dipakai kembali. Untuk membersihkan lantai, gunakan kain yang terpisah dan kain tersebut juga harus sering dicuci.

  1. Lindungi masakan dari serangga, tikus dan binatang lain

Binatang-binatang sering sebagai pembawa mikroorganisma patogen yang menjadikan penyakit yang ditularkan makanan. Simpanlah masakan pada kemasan tertutup.

  1. Gunakan air bersih

Air higienis untuk persiapan masakan yaitu sama pentingnya dengan air untuk minum. Jika Anda kurang yakin terhadap keamanan sumber air di rumah Anda, rebuslah air terlebih dahulu sebelum ditambahkan ke masakan atau sebelum dibentuk untuk es batu. Anda harus lebih berhati-hati terhadap air yang dipakai untuk mempersiapkan masakan bayi.

 

Referensi:

Depdiknas. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Hermiati, M.I. 2003. Higiene dan Sanitasi Makanan Pada Kantin Sekolah Dasar Sebelum dan Setelah dilakukan Pembinaan di Kecamatan Tanjungkarang Pusat Kota Bandar Lampung. Skripsi. Hal: 4-6

Indan, E. 2000. Ilmu Kesehatan Masyarakat. PT. Citra Aditya Bakti : Bandung

Juli, S.S. 2002. Kesehatan Lingkungan. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta

Rabu, 11 Mei 2011

Mikrobiologi Pangan

Mikrobiologi Pangan

Mikrobiologi yaitu suatu ilmu yang mempelajari makhluk hidup yang sangat kecil yang hanya Mikrobiologi Pangan

Mikrobiologi yaitu suatu ilmu yang mempelajari makhluk hidup yang sangat kecil yang hanya sanggup dilihat dengan memakai lensa pembesar atau mikroskop. Makhluk yang sangat kecil tersebut disebut mikroorganisme atau mikroba, dan ilmu yang mempelajari wacana mikroba yang sering ditemukan pada pangan disebut mikrobiologi pangan.

Pertumbuhan mikroba pada pangan sanggup menimbulkan banyak sekali perubahan, baik yang merugikan maupun yang menguntungkan. Mikroba yang merugikan contohnya yang menimbulkan kerusakan atau kebusukan pangan, dan yang sering menimbulkan penyakit atau keracunan pangan. Sedangkan mikroba yang menguntungkan yaitu yang berperan dalam proses fermentasi pangan, contohnya dalam pembuatan tempe,oncom, kecap, tauco, tape, dan lain-lain. Oleh alasannya yaitu itu dengan mengetahui sifat-sifat mikroba pada pangan kita sanggup mengatur kondisi sedemikian rupa sehingga pertumbuhan mikroba yang merugikan sanggup dicegah, sedangkan mikroba yang menguntungkan dirangsang pertumbuhannya.

Mikrobiologi yaitu suatu ilmu yang mempelajari makhluk hidup yang sangat kecil yang hanya Mikrobiologi Pangan

Jenis-jenis Mikroorganisme

Beberapa basil patogen yang sanggup menjadikan keracunan melalui pangan adalah:

1. Bacillus cereus

Bacillus cereus merupakan basil yang berbentuk batang, tergolong basil Gram-positif, bersifat aerobik, dan sanggup membentuk endospora. Keracunan akan timbul jikalau seseorang menelan basil atau bentuk sporanya, kemudian basil bereproduksi dan menghasilkan toksin di dalam usus, atau seseorang mengkonsumsi pangan yang telah mengandung toksin tersebut.

Gejala keracunan:

Bila seseorang mengalami keracunan yang disebabkan oleh toksin penyebab diare, maka tanda-tanda yang timbul bekerjasama dengan jalan masuk pencernaan serpihan bawah berupa mual, nyeri perut menyerupai kram, diare berair, yang terjadi 8-16 jam sehabis mengkonsumsi pangan

2. Clostridium botulinum

Clostridium botulinum merupakan basil Gram-positif yang sanggup membentuk spora tahan panas, bersifat anaerobik, dan tidak tahan asam tinggi. Toksin yang dihasilkan dinamakan botulinum, bersifat meracuni saraf (neurotoksik) yang sanggup menimbulkan paralisis. Toksin botulinum bersifat termolabil. Pemanasan pangan hingga suhu 800 C selama 30 menit cukup untuk merusak toksin. Sedangkan spora bersifat resisten terhadap suhu pemanasan normal dan sanggup bertahan hidup dalam pengeringan dan pembekuan.

Gejala keracunan:

Gejala botulism berupa mual, muntah, pening, sakit kepala, pandangan berganda, tenggorokan dan hidung terasa kering, nyeri perut, letih, lemah otot, paralisis, dan pada beberapa kasus sanggup menimbulkan kematian. Gejala sanggup timbul 12-36 jam sehabis toksin tertelan. Masa sakit sanggup berlangsung selama 2 jam hingga 14 hari.

3. Staphilococcus aureus

Terdapat 23 spesies Staphilococcus, tetapi Staphilococcus aureus merupakan basil yang paling banyak menimbulkan keracunan pangan. Staphilococcus aureus merupakan basil berbentuk kokus/bulat, tergolong dalam basil Gram-positif, bersifat aerobik fakultatif, dan tidak membentuk spora. Toksin yang dihasilkan basil ini bersifat tahan panas sehingga tidak gampang rusak pada suhu memasak normal. Bakteri sanggup mati, tetapi toksin akan tetap tertinggal. Toksin sanggup rusak secara sedikit demi sedikit ketika pendidihan minimal selama 30 menit.

Gejala keracunan:

Gejala keracunan sanggup terjadi dalam jangka waktu 4-6 jam, berupa mual, muntah (lebih dari 24 jam), diare, hilangnya nafsu makan, kram perut hebat, distensi abdominal, demam ringan

Beberapa basil patogen yang sanggup menginfeksi badan melalui pangan sehingga menimbulkan sakit adalah:

1. Salmonella

Salmonella merupakan basil Gram-negatif, bersifat anaerob fakultatif, motil, dan tidak menghasilkan spora. Salmonella bisa terdapat pada materi pangan mentah, menyerupai telur dan daging ayam mentah serta akan bereproduksi bila proses pamasakan tidak sempurna. Sakit yang diakibatkan oleh basil Salmonella dinamakan salmonellosis.

Gejala keracunan:

Pada kebanyakan orang yang terinfeksi Salmonella, tanda-tanda yang terjadi yaitu diare, kram perut, dan demam yang timbul 8-72 jam sehabis mengkonsumsi pangan yang tercemar. Gejala lainnya yaitu menggigil, sakit kepala, mual, dan muntah. Gejala sanggup berlangsung selama lebih dari 7 hari. Banyak orang sanggup pulih tanpa pengobatan, tetapi benjol Salmonella ini juga sanggup membahayakan jiwa terutama pada anak-anak, orang lanjut usia, serta orang yang mengalami gangguan sistem kekebalan tubuh.

2. Clostridium perfringens

Clostridium perfringens merupakan bekteri Gram-positif yang sanggup membentuk endospora serta bersifat anaerobik. Bakteri ini terdapat di tanah, usus insan dan hewan, daging mentah, unggas, dan materi pangan kering. Clostridium perfringens dapat menghasilkan 5 enterotoksin yang tidak dihasilkan pada masakan sebelum dikonsumsi, tetapi dihasilkan oleh basil di dalam usus.

Gejala keracunan:

Gejala keracunan sanggup terjadi sekitar 8-24 jam sehabis mengkonsumsi pangan yang terkontaminasi bentuk vegetatif basil dalam jumlah besar. Di dalam usus, sel-sel vegetatif basil akan menghasilkan enterotoksin yang tahan panas dan sanggup menimbulkan sakit. Gejala yang timbul berupa nyeri perut, diare, mual, dan jarang disertai muntah. Gejala sanggup berlanjut selama 12-48 jam, tetapi pada kasus yang lebih berat sanggup berlangsung selama 1-2 ahad (terutama pada belum dewasa dan orang lanjut usia).

3. Escherichia coli

Bakteri Escherichia coli merupakan mikroflora normal pada usus kebanyakan binatang berdarah panas. Bakteri ini tergolong basil Gram-negatif, berbentuk batang, tidak membentuk spora, kebanyakan bersifat motil (dapat bergerak) memakai flagela, ada yang memiliki kapsul, sanggup menghasilkan gas dari glukosa, dan sanggup memfermentasi laktosa. Kebanyakan strain tidak bersifat membahayakan, tetapi ada pula yang bersifat patogen terhadap manusia, menyerupai Enterohaemorragic Escherichia coli (EHEC). Escherichia coli O157:H7 merupakan tipe EHEC yang terpenting dan berbahaya terkait dengan kesehatan masyarakat.

E. coli dapat masuk ke dalam badan insan terutama melalui konsumsi pangan yang

tercemar, contohnya daging mentah, daging yang dimasak setengah matang, susu mentah, dan cemaran fekal pada air dan pangan.

Gejala keracunan:

Gejala penyakit yang disebabkan oleh EHEC yaitu kram perut, diare (pada beberapa kasus sanggup timbul diare berdarah), demam, mual, dan muntah. Masa inkubasi berkisar 3-8 hari, sedangkan pada kasus sedang berkisar antara 3-4 hari.

Bakteri pada pencemaran masakan lainnya yaitu :

a. Clostridium Welchii dan Perfringens

Bakteri ini biasanya terdapat dalam makanan-makanan kaleng, lantaran spora-spora yang tidak mati dalam proses pasteurisasi. Dalam keadaan tertutup dengan pernafasan anaerob dari basil ini dan suhu yang menguntungkan, maka spora-spora tersebut sanggup tumbuh menjadi basil serta menghasilkan toksin.

b. Pseudomonas Cocovenenans

Pseudomonas Cocovenenans terdapat pada tempe bongkrek, yaitu masakan khas di Jawa tengah yang terbuat dari ampas kelapa.

c. Neurospora Sitophila

Bakteri ini terdapat pada oncom yang dalam pembuatannya memakai ragi berupa jamur Monilia Sitophila yaitu salah satu spesies jamur tak sempurna.

d. Aspergillus Flavus

Bakteri ini terdapat pada udang dalam kondisi tertentu yang menimbulkan basil ini berkembang dan menghasilkan racun Aflatoksin yang berbahaya sekali jikalau hingga termakan.

e. Clostridia Anaerob

Bakteri ini berkembang dalam produksi pengalengan daging di mana pemanasan yang dilakukan tidak cukup.

f. Clostridium Aerofoeticum dan C. Welchii

Ciri dari pencemaran masakan oleh basil ini yaitu adanya busuk busuk pada masakan tersebut.

 

Referensi:

Achmad Djaeni Sediaoetama,Prof.DR.MSc, Ilmu Gizi,Dian Rakyat, jilid II, Jakarta,1989

Alan Berg and Robert J. Muscat, Faktor Gizi, Bharata Karya Aksara, Jakarta, 1987

A. Tresna Sastrawijaya, MSc, Pencemaran Lingkungan, Rineka Cipta, Jakarta, 1991

Majalah Kesehatan, edisi III, 1992

Sabtu, 16 April 2011

How Antidepressants Spur Brain Growth

Researchers have identified the mechanism by which some antidepressants stimulate the formation of new brain cells, an insight that could lead to improved drugs.

Antidepressants combat depression by increasing levels of serotonin in the brain. But they can also help by stimulating the formation of new brain cells, a process called neurogenesis, which plays an important role in memory.

Researchers have identified the mechanism by which some antidepressants stimulate the form How antidepressants spur brain growth

Depressed patients are thought to release greater amounts of glucocorticoid stress hormones, such as cortisol, which reduce neurogenesis, causing symptoms such as impaired memory and low mood. Previous research has shown that antidepressants block the effect of the glucocorticoid hormones and restore neurogenesis, but the mechanism by which this happens was unknown.

Now, scientists at King's College London in the UK have found that antidepressants affect neurogenesis by interacting with the glucocorticoid receptor, leading to expression of key genes needed for stem cells to differentiate and proliferate. The group exposed cultures of human stem cells from an area of the brain called the hippocampus to a range of antidepressants, including sertralene, which is marketed as Zoloft by Pfizer.

'We've seen that the glucorticoid hormones and the antidepressants activate the same protein, called the glucorticoid receptor,' explained Christoph Anacker, who led the study group. 'But they activate this receptor in very different ways'. Glucocorticoids decrease neurogenesis, whereas antidepressants increase it.

The researchers say that their work provides a model for depression in the laboratory and a platform for drug discovery to develop antidepressants that are more effective and lead to fewer side effects. 'It demonstrates that antidepressants have effects which go beyond simply increasing the transmission of serotonin in the brain,' says Daniel Smith, an expert in clinical psychology at Cardiff University, UK. 'Current antidepressants have quite a broad range of effects and interact with a large number of different receptors in the brain.' The work could lead to new drugs that sasaran the glucocorticoid receptor more specifically, he adds.

By 2020, depression is expected to be the second most damaging disease globally as measured across a range of indicators. One in five women and one in 10 men are likely to experience the disease at some point.

References

C Anacker et al, Mol Psychiatr, 2011, DOI:10.1038/mp.2011.26

The Brain Has Three Layers Of Working Memory

The results of a recent research, supports the theory that the brain has three concentric layers of working memory that stores data for easy access. Scientists who study human memory have been discussed for a long time if there are two or three layers and what are the capacity and the role of each one.

 supports the theory that the brain has three concentric layers of working memory that sto The brain has three layers of working memory

Researchers at Rice University and Georgia Institute of Technology, U.S., have found that short-term memory consists of three areas: a core that focuses on one thing active, a surrounding area that maintains at least three things active and a wider region that remains inactive things that have been tagged for later retrieval or return to the area of most activity. But the most important findings from this study is that the central region has three functions, and not two as previously proposed by other scientists. First, this nucleus directs attention to the right question. After the access it provides when you return to be appropriate. And finally, the updates if necessary.

 supports the theory that the brain has three concentric layers of working memory that sto The brain has three layers of working memory

To identify three distinct layers of memory, Chandramallika Basak from Rice University and Paul Verhaeghen from Georgia Institute of Technology, they used simple memory tasks that were commissioned to conduct the study subjects. Basak and Verhaeghen also identified core functions through the strategy of exploring the process of alternation of things in focus.

The discovered helps to explain the process by which a person can perform two tasks with efficiency at the same time, when at least one of them is repetitive and already well known. To perform the same sequence of events over and over again, the memory can automate part, so it acquires the ability to do another task at the same time.

Another facet of the study revealed that the third level of memory (the region containing inactive data) is not only separated from the other two areas, active storage, but it is between them and a kind of firewall (in the computer sense of the word). As a result, the amount of inactive data does not affect the response time or accuracy in recalling the active data.

source: http://popular-science.net

Biochemists Reveal Hidden Drug Effects

Canadian researchers have identified unexpected drug activities by probing biochemical pathways inside living cells.

'It is a different way of doing things,' said team member Stephen Michnick at the University of Montreal. 'This is the first report of the strategy performed on this scale,' he told Chemistry World.

Patterns of gene expression are currently used to predict drug activity, and can provide hypotheses about the cellular mechanisms of drug responses. But changes in mRNA expression do not always correlate with the level or activity of corresponding proteins, says Michnick, and the complexity of gene regulation can obscure the mechanisms of action of drugs within biochemical pathways.

Michnick and colleagues screened over 100 drugs covering six therapeutic areas. They used the proteomics technique of high-content protein-fragment complementation assay (PCA), which measures protein-protein interactions in biological systems. The assays incorporate a fluorescent protein that enables measurement of the spatial and temporal changes of protein interactions.

The strategy turned up some unexpected anticancer activities of drugs developed for other disorders. For example, said Michnick, the antidepressant, sertraline. 

Canadian researchers have identified unexpected drug activities by probing biochemical pat Biochemists reveal hidden drug effects

Sertraline: (1S)-cis-4-(3,4-dichlorophenyl)-1,2,3,4-tetrahydro-N-methyl-1-naphthalenamine hydrochloride

'This was a bit of a surprise, we didn't really set out to demonstrate this but early results were suggestive and follow up revealed that the screen was predicting drugs that could have anti-growth activity against some cancer cells,' said Michnick, adding that this is a long way from proving that these drugs would be effective anticancer drugs.

Biotechnologist George Miklos, founder and director of the Australian biomedical advisory service Secure Genetics, has previously highlighted drawbacks of analysing microarray-based gene expression data. The problem, he says, is separating genes causally involved in a disease from innocent bystander genes, whose expression levels have been secondarily altered by primary changes elsewhere. Miklos told Chemistry World that Michnick's paper made for 'very interesting reading.'

The work was performed at Odyssey Thera, a biotech firm in California, US that was spun out of Michnick's lab in Montreal. 'Odyssey are actively using this approach for pharmaceutical company partners,' said Michnick.
Bea Perks

References

M L MacDonald et al, Nat. Chem. Biol., (DOI:10.1038/nchembio790)

Molecular Obesity Is Weighing Down Drug Discovery

Medicinal chemistry's quest for potent drug candidates has resulted in molecules that are too large and too lipophilic for their own good

s quest for potent drug candidates has resulted in molecules that are too large and too li Molecular obesity is weighing down drug discovery

Medicinal chemistry is at the heart of the drug discovery process, and the creativity of medicinal chemists in identifying the best leads and then optimising them on a complex landscape of constraints is often the defining characteristic of successful drug discovery campaigns. It's a process that more often resembles an unpredictable journey on a chaotic surface rather than a quantitative and predictive science.

Despite the increase in biology and chemistry knowledge worldwide, the discovery of effective and safe new drugs seems to become harder rather than easier. Some of this challenge is due to increasing demands for safety and novelty, but some of the risk involved in this should be controllable if we had more effectively learnt from our failures. Mike Hann has coined the term 'molecular obesity' in a review in the journal MedChemComm to describe our tendency to build potency in the molecules by the inappropriate use of lipophilicity, which leads to the premature demise of drug candidates. 

Bioavailability used to be a leading cause of failure in drug discovery, but more recently this appears to have been over taken by toxicology. This is probably because pharmacokinetic issues are better understood and formulations of compounds have improved. Some of this improvement in getting compounds into the body (and keeping them there) may have contributed to the rise in attrition due to toxicological issues as the body responds to chemical entities that are 'forced' into the body. 

Thus by using formulation technologies to deliver inappropriate molecules we may have only delayed the realisation that a molecule is inappropriate to a more expensive part of the drug discovery activity. The usual response of the body to lipophilic foreign molecules is to try to make them more polar via metabolism so they can be excreted. Medicinal chemists often have to make their lipophilic and insoluble compounds more metabolically stable to prolong their duration of action. This can put enormous demands on a compound's profile, especially if once-a-day dosing is being sought as the sasaran product profile. Blocked metabolism means the body will need to find more extreme ways of removing the compound, often inducing more high potential and thus intrinsically more reactive and toxic species. 

Bordering on an addiction

Excess molecular weight and lipophilicity are not conducive to the ultimate success of compounds in the drug discovery process, so why is it that we so readily find ourselves at the limits or beyond of what is the statistically safer zone? One of the key drivers that leads to this situation is our perceived need for potency (bordering on an addiction) and the fact that potency can often be most easily gained by increasing lipophilicity. We like potency in our molecules for a number of reasons and it is worth examining why this is. 

One of the basic tenets of medicinal chemistry is that increasing ligand potency leads to increased specificity and hence to an improved therapeutic index. Finding appropriate interactions by increasing matched complexity is essential for optimising weak leads to give increased potency. However, if complexity is introduced unnecessarily it does nothing to build the specificity, and can introduce the opportunity for recognition at other targets. 

Potency can compensate for low bioavailability in that the small portion of, for example, a poorly absorbed drug that does get into the circulation will at least have a chance of being efficacious if it has high molar potency. However this brings a high risk in that the part of the high dosage that is not being used effectively is available to cause off-target issues. 

The dangers of molecular obesity

Increasing molecular weight and lipophilicity in our hunt for potency results in molecules that could be described as obese; they have become too large and too lipophilic for their own good. This addiction to molecular obesity represents a high risk to the future health of the molecule as a drug candidate. 

References

This comment piece is taken from M M Hann, Med. Chem. Commun., 2011 (DOI: 10.1039/c1md00017a) 

Selasa, 12 April 2011

Manfaat Flavonoid Untuk Kesehatan

 atom karbon yang umumnya tersebar di dunia tumbuhan Manfaat Flavonoid untuk Kesehatan
Flavonoid yaitu senyawa yang terdiri dari dari 15 atom karbon yang umumnya tersebar di dunia tumbuhan. Lebih dari 2000 flavonoid yang berasal dari tumbuhan telah diidentifikasi, namun ada tiga kelompok yang umum dipelajari, yaitu antosianin, flavonol, dan flavon.  Antosianin (dari bahasa Yunani anthos , bunga dan kyanos, biru-tua) yaitu pigmen berwarna yang umumnya terdapat di bunga berwarna merah, ungu, dan biru . Pigmen ini juga terdapat di aneka macam penggalan tumbuhan lain misalnya, buah tertentu, batang, daun dan bahkan akar. Flavnoid sering terdapat di sel epidermis. Sebagian besar flavonoid terhimpun di vakuola sel tumbuhan walaupun daerah sintesisnya ada di luar vakuola.
 atom karbon yang umumnya tersebar di dunia tumbuhan Manfaat Flavonoid untuk Kesehatan
Flavonoids dikenal sebagai salah satu substansi antioksidan yang berkekuatan sangat berpengaruh hingga sanggup menghilangkan imbas merusak yang terjadi pada oksigen dalam badan manusia. Sekarang ini para peneliti sangat tertarik mengenai potensi manfaat substansi kimiawi tersebut yang juga banyak terkandung dalam bawang bombay, apel, dan anggur merah.

Sementara penelitian terdahulu menyimpulkan bahwa minum teh yaitu baik bagi kesehatan jantung, temuan terakhir menyimpulkan kebenaran imbas dramatik tersebut bagi laki-laki maupun wanita. Penelitian tersebut meliputi hasil penelitian atas teh yang dihasilkan dari jenis teh hitam. Para ilmuwan peneliti menyatakan bahwa teh hitam mengandung plavonoids yang berkekuatan lebih berpengaruh dibanding teh hijau, sementara teh herbal disimpulkan ternyata tidak mengandung sedikitpun flavonoids. Hasil penelitian terbaru para peneliti Belanda menunjukkan bahwa orang yang meminum satu hingga dua gelas teh setiap hari akan menurunkan resiko hingga sekitar 46% terhadap gangguan penyakit aortic atherosclerossis, yaitu penyempitan pembuluh darah arteri yang disebabkan terjadinya penimbunan lemak atau substansi lainnya dalam dinding dalam susukan pembuluh darah. Dengan minum hingga 4 gelas teh maka penurunan angka resiko berkurang hingga 69%.

Hasil temuan didasarkan atas penelitian di Belanda terhadap 3,454 orang yang berkondisi bebas dari tanda-tanda penyakit jantung pada awal penelitian dilakukan. Hasilnya dipublikasikan dalam edisi terakhir Archives of Internal Medicine, suatu jurnal ilmiah terbitan Chicago, USA. Menariknya kandungan flavonoid dalam sarang semut cukup tinggi, sebagaimana yang ada kandang lebah, sehingga dengan adanya flavonoid di kandang lebah, mengakibatkan daerah tersebut kondusif dari segala bahaya penyakit, bahkan radiasi radioaktif sekalipun. Menurut penelitian Flavonoid merupakan golongan senyawa materi alam dari senyawa fenolik yang banyak merupakan pigmen tumbuhan. Saat ini lebih dari 6.000 senyawa yang berbeda masuk ke dalam golongan flavonoid. Flavonoid merupakan penggalan penting dari diet insan lantaran banyak keuntungannya bagi kesehatan. Fungsi kebanyakan flavonoid dalam badan insan yaitu sebagai antioksidan sehingga sangat baik untuk pencegahan kanker. Manfaat flavonoid antara lain yaitu untuk melindungi struktur sel, mempunyai relasi sinergis dengan vitamin C (meningkatkan efektivitas vitamin C), antiinflamasi, mencegah keropos tulang, dan sebagai antibiotik.
Dalam banyak kasus, flavonoid sanggup berperan secara eksklusif sebagai antibiotik dengan mengganggu fungsi dari mikroorganisme menyerupai basil atau virus. Fungsi flavonoid sebagai antivirus telah banyak dipublikasikan, termasuk untuk virus HIV (AIDS) dan virus herpes. Selain itu, flavonoid juga dilaporkan berperan dalam pencegahan dan pengobatan beberapa penyakit lain menyerupai asma, katarak, diabetes, encok/rematik, migren, wasir, dan periodontitis (radang jaringan ikat penyangga akar gigi). Penelitian­-penelitian mutakhir telah mengungkap fungsi-fungsi lain dari flavonoid, tidak saja untuk pencegahan, tetapi juga untuk pengobatan kanker.
Pada Sarang Semut menunjukkan bahwa tumbuhan ini mengandung senyawa-senyawa kimia dari golongan flavonoid dan tanin. Hal ini sesuai dengan basil penelitian yang telah dilakukan oleh para peneliti yang mempelajari golongan senyawa ini dalam kaitannya dengan sistem pertahanan diri tumbuhan Sarang Semut.
 
# aneka macam sumber

Teknologi Plasma Dalam Industri Pengemasan Makanan

Salah satu tujuan utama pengemasan masakan ialah untuk menimbulkan masakan sanggup tahan usang (awet). Akan tetapi, proses yang dilakukan untuk mencapai tujuran tersebut biasanya sanggup menimbulkan kerusakan nutrien dan komponen – komponen sensori pada makanan. Oleh lantaran itu, teknologi pengemasan masakan terus dikembangkan dengan tujuan menimbulkan masakan sanggup tahan usang dengan meminimalkan kerusakan nutrient dan komponen – komponen sensori pada masakan tersebut.

Aplikasi teknologi plasma dalam industri pengemasan masakan lahir sebagai bentuk perkembangan dalam teknologi pengemasan masakan yang baik lantaran mempunyai beberapa keunggulan menyerupai proses yang cepat dan minim menimbulkan kerusakan pada makanan.

Berikut ini merupakan aplikasi teknologi plasma dalam pengemasan makanan:

1. Fungsionalisasi dan aktivasi permukaan

Pada kemasan masakan berbahan dasar polimer, fasilitas dicetak dan sifat anti asap merupakan properti khas yang harus dimiliki. Dengan teknologi plasma, kedua kriteria tersebut sanggup dipenuhi melalui fungsionalisasi dan aktivasi permukaan. Dalam tahap ini, plasma berfungsi sebagai penyesuai energi permukaan dengan cara mengatur adhesifitas, sifat hidrofobik, dan hidrofilik. Dalam pengaturan sifak hidrofobik dan hidrofil, ada dua hal yang menjadi perhatian yaitu terbentuknya lapisan permukaan anti asap dan penggunaan cat berbahan dasar air ataupun tinta. Lamanya waktu yang diharapkan dalam perlakuan plasma terhadap kemasan memilih adhesifitas yang diperoleh.

Penggunaan lapisan plasma juga mempunyai kegunaan dalam meningkatkan derajat kebasahan permukaan yang besar lengan berkuasa juga terhadap energi permukaan tersebut. Dengan adanya plasma, energi permukaan meningkat 1,5 kali lipat. Hal ini sangat mempunyai kegunaan dalam penggunaan cat berbahan dasar secara ekologis.

2. Pelapisan permukaan

Pengawetan masakan dalam kemasan bergantung pada sterilitas dan kualitas kemasan itu sendiri. Sebagai contoh, untuk masakan atau minuman yang sensitivitasnya terhadap udara cukup tinggi harus dikemas dalam botol yang mempunyai lapisan penghalang yang kuat

Salah satu tujuan utama pengemasan masakan ialah untuk menimbulkan masakan sanggup tahan lam Teknologi Plasma dalam Industri Pengemasan Makanan

Gambar 1: Ruang dalam rekator selama perlakuan dengan plasma

Pelapisan botol PET dari dalam memakai SiOx dan HMDSO (heksametildioksan) dengan tunjangan argon plasma merupakan cara gres dalam produksi botol PET berkualitas tinggi sebagai kemasan minuman tertentu. Dengan memakai plasma, lapisan SiOx setebal 50 nm sanggup diperoleh hanya dalam waktu kurang dari lima detik. Padahal proses ini memakan waktu hampir puluhan kali lipat lebih usang tanpa adanya plasma. Penggunaan plasma juga meningkatkan kemampuan kemasan dalam menghalangi terjadinya difusi gas dalam rentang skala 3 -10. Selain itu, kemasan yang dilapisi memakai plasma, mempunyai kemungkinan hampir 0% dalam terjadinya microcrack akhir spora.

3. Sterilisasi plasma

Sterilisasi dalam pemrosesan masakan merupakan suatu proses pengawetan masakan dengan cara memanaskan masakan pada temperatur yang cukup tinggi dalam waktu tertentu untuk menghancurkan mikroba dan acara enzim. Dengan proses sterilisasi,biasanya masakan sanggup bertahan sampai lebih dari 6 bulan pada temperatur ruang.

Ada banyak alasan mengapa sterilisasi memakai plasma menjadi pilihan. Berikut beberapa alasannya.

  • Waktu inaktivasi spora yang singkat
  • Beban termal yang rendah
  • Tidak ada penggunaan materi kimia toksik dan berbahaya
  • Tidak terbentuk produk yang toksik dan berbahaya pasca steriliasi
  • Tidak ada perubahan sifat pada material masakan yang diproses, malah terjadi peningkatan kualitas material masakan
  • Tidak perlu ada treatment lanjutan

Mekanisme sterilisasi dengan plasma:

  1. Destruksi material genetic mikroorganisme melalui irradiasi UV
  2. Pengikisan mikroorganisme atom per atom melalui fotodesorpsi intrinsik
  3. Pengikisan mikroorganisme atom per atom melalui proses etching.

Alat sterilisasi berteknologi plasma yang biasa dipakai ialah ECR Plasma (Electron Cyclotron Resonance Plasma). Alat ini memanfaatkan prinsip gaya Lorentz dengan adanya pergerakan sirkular electron-elektron bebas sehingga membangkitkan medan magnet seragam yang statis.

Berikut ini merupakan bagan ECR plasma:

Salah satu tujuan utama pengemasan masakan ialah untuk menimbulkan masakan sanggup tahan lam Teknologi Plasma dalam Industri Pengemasan Makanan

Gambar 2 : Skema alat ECR Plasma

Sterilisasi meggunakan plasma berbeda lantaran biro aktif nya spesifik, menyerupai foton UV dan radikal. Keuntungan metode plasma ialah proses sanggup dilakukan pada temperature rendah (500C), relative aman, dan mengawetkan keutuhan instrument dasar polimer, yang tak bisa dilakukan jikalau memakai autoklaf atau oven. Foton UV yang diemisikan akan di-reabsorpsi oleh gas ambient pada tekanan atmosfer.

 

# Sumber: http://itcanbeshown.com/NERS590/Plasma%20Sterilization.ppt; http://majarimagazine.com

Sabtu, 09 April 2011

Potensi Minyak Bawang Putih Sebagai Santunan Terhadap Penyakit Jantung Pada Diabetes

 Bawang putih mengandung minyak yang sanggup membantu mencegah cardiomyopathy Potensi Minyak Bawang Putih sebagai Perlindungan terhadap Penyakit Jantung pada Diabetes
Bawang putih mengandung minyak yang sanggup membantu mencegah cardiomyopathy, membentuk penyakit jantung yang terkemuka penyebab maut pada orang dengan diabetes 

" Disfungsi kontraktil jantung dan Apoptosis dalam streptozotocin-induced Tikus Diabetik Apakah terbantu dengan Suplementasi Minyak Bawang Putih "

Jurnal dan Makanan Kimia Pertanian

Bawang putih telah "signifikan" berpotensi untuk mencegah cardiomyopathy, suatu bentuk penyakit jantung yang merupakan penyebab utama maut pada penderita diabetes, para ilmuwan telah menyimpulkan dalam sebuah studi baru. Laporan mereka, yang juga menjelaskan mengapa orang dengan diabetes berisiko tinggi untuk kardiomiopati diabetes, muncul dalam ACS '-mingguan Journal bi Pertanian dan Pangan Kimia.
Wei-Wen Kuo dan rekan mencatat bahwa orang dengan diabetes mempunyai minimal dua kali risiko maut akhir penyakit jantung menyerupai orang lain, dengan akuntansi penyakit jantung untuk 80 persen dari semua maut terkait diabetes. Mereka terutama rentan terhadap suatu bentuk penyakit jantung disebut kardiomiopati diabetes, yang terbakar dan jaringan otot melemahkan jantung. Kelompok Kuo mempunyai petunjuk dari studi sebelumnya bahwa bawang putih sanggup melindungi terhadap penyakit jantung secara umum dan juga membantu mengontrol kadar gula darah tinggi absurd yang terjadi pada diabetes. Tapi mereka menyadari bahwa beberapa studi telah dilakukan khusus pada imbas bawang putih terhadap cardiomyopathy diabetes.
Para ilmuwan memberi makan baik minyak bawang putih atau minyak jagung pada tikus laboratorium dengan diabetes. Hewan yang diberikan minyak bawang putih mengalami perubahan yang bermanfaat yang terkait dengan sumbangan terhadap kerusakan jantung. Perubahan sepertinya dikaitkan dengan sifat antioksidan berpengaruh minyak bawang putih, para ilmuwan mengatakan, menambahkan bahwa mereka mengidentifikasi lebih dari 20 zat dalam minyak bawang putih yang sanggup berkontribusi pada efek. "Kesimpulannya, minyak bawang putih mempunyai potensi yang signifikan untuk melindungi hati dari diabetes-cardiomyopathy diinduksi,". 


#sumber: http://portal.acs.org

Cuci Tangan Benar-Benar Membantu Menghentikan Penyebaran Penyakit

 juga tugas penting dalam meningkatkan kualitas Cuci tangan benar-benar membantu menghentikan penyebaran penyakit

Mencuci tangan, usang diakui sebagai efektif
praktek memerangi kuman, juga tugas penting dalam meningkatkan kualitas
air minum yang disimpan di negara-negara miskin.

Ringkasan

Ibu telah benar selama ini untuk menciptakan bawah umur mereka mencuci tangan sebelum makan. Para ilmuwan melaporkan dramatis gres dunia faktual bukti yang mendukung gagasan bahwa mencuci tangan sanggup mencegah penyebaran penyakit yang ditularkan melalui air. Hal ini muncul dalam sebuah penelitian gres menunjukkan hubungan antara kuman fecal kontaminasi pada tangan, kontaminasi kotoran dari disimpan air minum, dan kesehatan dalam rumah tangga dalam pengembangan negara di Afrika. Penelitian ini di ACS 'Lingkungan Sains & Teknologi, sebuah jurnal bulanan semi.

Generasi ibu – ibu Dokter telah mengingatkan kita untuk mencuci tangan kita. Dan bahaya pandemi influenza dibentuk bahwa artikel kebijakan kesehatan masyarakat merupakan saran yang masuk akal. Tapi apakah mencuci tangan benar-benar bekerja? Di dunia faktual terbukti bahwa sabun dan air mencegah penyakit dan menjaga kesehatan, berasal dari sebuah penelitian yang diterbitkan dalam American Chemical Society's Environmental Science & Technology, jurnal semi-bulanan. Berikut ini yakni Jenna Davis dari Universitas Stanford, salah satu penulis laporan tersebut:

"Hari ini hampir 3 milyar orang - 43 persen orang di planet ini - tidak mempunyai jalan masuk ke air higienis yang mengalir melalui pipa dari reservoir ke rumah mereka. Ini berarti mereka harus menyimpan air di mana mereka tinggal. Kami telah menduga bahwa tangan kotor berperan dalam kontaminasi mikroba air minum selama pengumpulan, transportasi, dan penyimpanan. Tapi bekerja sedikit yang telah dilakukan untuk mengevaluasi secara kuantitatif hubungan antara kontaminasi tangan dan disimpan kualitas air dalam rumah tangga. "

 juga tugas penting dalam meningkatkan kualitas Cuci tangan benar-benar membantu menghentikan penyebaran penyakit

Jenna Davis, Ph.D.
Foto milik Andrew
Sparks

Jadi, untuk mendapat balasan yang pasti, tim mengukur tingkat E. coli, streptococci kotoran, dan kuman penyebab penyakit dalam sumur, mata air, dan sumber lainnya; air yang disimpan, dan di tangan orang. Mereka berfokus pada 334 rumah tangga di masyarakat di Dar es Salaam, sebuah kota sebesar 2,5 juta orang di Tanzania, sebuah negara berkembang di Afrika. Di sana, warga kota harus bergantung pada air yang dikumpulkan dan disimpan di rumah. Dr Davis menjelaskan apa yang ia dan rekan-rekannya menemukan:

"Kami menemukan hubungan besar lengan berkuasa antara kontaminasi kotoran pada tangan penduduk rumah tangga dan kontaminasi kuman dalam air yang disimpan di Dar es Salaam. Air yang disimpan dalam kendi dan wadah lainnya di dalam rumah mereka terdapat hampir 100 kali lebih banyak kuman fecal daripada sumber air itu didapatkan. Kami juga menemukan kuman yang menyebabkan penyakit di tangan dari 50 persen orang dalam penelitian kami. "

Berbekal bukti yang dipotong terperinci bahwa orang dengan tangan kotor yang mencemari pasokan air mereka sendiri rumah tangga di Tanzania, tim menarik kesimpulan utama wacana bagaimana memperbaiki situasi.

"Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa mengurangi kontaminasi kotoran di tangan harus diselidiki sebagai taktik untuk meningkatkan kualitas air minum yang disimpan dan kesehatan antara rumah tangga yang tidak mempunyai jalan masuk ke dimurnikan, persediaan air kota. Kami percaya bahwa ini yakni baru, dunia faktual bukti yang mendukung gagasan bahwa mencuci tangan sanggup mencegah penyebaran penyakit yang disebabkan oleh air. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa air yang disimpan sanggup mempunyai tingkat yang lebih tinggi dari kontaminasi kuman dari sumbernya. Tapi tak seorang pun tahu mengapa. Sekarang kita mempunyai bukti wacana salah satu penyebab mungkin. "

 

#sumber: http://portal.acs.org

Sabtu, 19 Maret 2011

Kenali Arahan Segitiga Plastik

Kode ini dikeluarkan oleh The Society of Plastic Industry pada tahun  KENALI KODE SEGITIGA PLASTIK

Kode ini dikeluarkan oleh The Society of Plastic Industry pada tahun 1998 di Amerika Serikat dan diadopsi oleh lembaga-lembaga pengembangan sistem kode, menyerupai ISO (International Organization for Standardization) .

Secara umum tanda pengenal plastik tersebut:
1. Berada atau terletak di potongan bawah
2. Berbentuk segitiga
3. Di dalam segitiga tersebut terdapat angka
4. Serta nama jenis plastik di bawah segitiga

Tanda pengenal plastik itu dibagi menjadi 7 buah kelompok. Serta 3 perhiasan sehingga totalnya ada 10 buah. Tanda-tanda plastik tersebut adalah:

Kode ini dikeluarkan oleh The Society of Plastic Industry pada tahun  KENALI KODE SEGITIGA PLASTIK

Polyethylene Terephthalate (PET, PETE). PET biasanya dipergunakan di botol minuman dan jenisnya transparan, jernih/bening. Seperti digunakan untuk kawasan air mineral, air jus, jelly dan tidak untuk air hangat apalagi air panas. Digunakan hanya untuk satu kali saja. Nickname: Polyester. Bila terlalu sering dipakai, apalagi digunakan untuk menyimpan air hangat apalagi panas, akan mengakibatkan lapisan polimer pada botol tersebut akan meleleh dan mengeluarkan zat karsinogenik (dapat mengakibatkan kanker) dalam jangka panjang.

Kode ini dikeluarkan oleh The Society of Plastic Industry pada tahun  KENALI KODE SEGITIGA PLASTIK

High Density Polyethylene (HDPE). Benda dengan instruksi HDPE digunakan untuk botol susu, jus, air, kotak sereal dan produk pencuci. Bentuknya berwarna putih susu. HDPE menyerupai PTE tetapi lebih tahan terhadap materi kimia. HDPE juga menyerupai PTE pengunaannya hanya sekali saja. Biasa digunakan untuk botol susu yang berwarna putih susu, tupperware, galon air minum, dingklik lipat, dan lain-lain. HDPE mempunyai sifat materi yang lebih kuat, keras, buram dan lebih tahan terhadap suhu tinggi. HDPE merupakan salah satu materi plastik yang kondusif untuk digunakan alasannya kemampuan untuk mencegah reaksi kimia antara kemasan plastik berbahan HDPE dengan makanan/minuman yang dikemasnya. Sama menyerupai PET, HDPE juga direkomendasikan hanya untuk sekali pemakaian alasannya pelepasan senyawa antimoni trioksida terus meningkat seiring waktu.

Kode ini dikeluarkan oleh The Society of Plastic Industry pada tahun  KENALI KODE SEGITIGA PLASTIK

Vinyl (Polyvinyl Chloride or PVC), materi ini paling susah untuk didaur ulang dan biasa digunakan untuk pipa dan kontruksi bangunan. Karena lebih tahan terhadap materi senyawa kimia, minyak, dll. Sebaiknya kita mencari alternatif pembungkus kuliner lain (bukan bertanda 3 dan V) menyerupai plastik yang terbuat dari polietilena atau materi alami (daun pisang misalnya).

Kode ini dikeluarkan oleh The Society of Plastic Industry pada tahun  KENALI KODE SEGITIGA PLASTIK

Low Density Polyethylene (LDPE). biasa digunakan untuk kawasan kuliner dan botol-botol yang lembek (madu, mustard). Barang-barang dengan instruksi ini sanggup di daur ulang dan baik untuk barang-barang yang memerlukan fleksibilitas tetapi kuat. Barang dengan instruksi ini bisa dibilang tidak sanggup di hancurkan tetapi tetap baik untuk kawasan makanan. LDPE (low density polyethylene) yaitu plastik tipe cokelat (thermoplastic/ dibentuk dari minyak bumi), biasa digunakan untuk kawasan makanan, plastik kemasan, dan botol-botol yang lembek. Sifat mekanis jenis plastik LDPE adalah
1. Kuat,
2. Agak tembus cahaya,
3. Fleksibel dan permukaan agak berlemak.
4. Pada suhu di bawah 60oC sangat resisten terhadap senyawa kimia,
5. Daya perlindungan terhadap uap air tergolong baik,
6. Kurang baik bagi gas-gas yang lain menyerupai oksigen.
7. Plastik ini sanggup didaur ulang, baik untuk barang-barang yang memerlukan fleksibilitas tetapi kuat, dan mempunyai resistensi yang baik terhadap reaksi kimia.
Barang berbahan LDPE ini sulit dihancurkan, tetapi tetap baik untuk kawasan kuliner alasannya sulit bereaksi secara kimiawi dengan kuliner yang dikemas dengan materi ini.

Kode ini dikeluarkan oleh The Society of Plastic Industry pada tahun  KENALI KODE SEGITIGA PLASTIK

Polypropylene (PP). Barang dengan instruksi ini merupakan pilihan terbaik untuk materi plastik terutama untuk yang bekerjasama dengan kuliner dan minuman menyerupai kawasan menyimpan makanan, botol minum, kawasan obat dan botol minum untuk bayi. Cirinya biasa botol transparan yang tidak jernih atau berawan. Cari simbol ini bila membeli barang berbahan plastik. Polipropilen lebih berpengaruh dan ringan dengan daya tembus uap yang rendah, ketahanan yang baik terhadap lemak, stabil terhadap suhu tinggi dan cukup mengkilap. Jenis PP (polypropylene) ini ialah pilihan materi plastik terbaik, terutama untuk kawasan kuliner dan minuman menyerupai kawasan menyimpan makanan, botol minum dan terpenting botol minum untuk bayi. Carilah dengan instruksi angka 5 bila membeli barang berbahan plastik untuk menyimpan kemasan banyak sekali kuliner dan minuman.

Kode ini dikeluarkan oleh The Society of Plastic Industry pada tahun  KENALI KODE SEGITIGA PLASTIK

Polystyrene (PS). PS biasa digunakan sebagai materi kawasan makan styrofoam, kawasan minum sekali pakai, kawasan CD, karton kawasan telor, dll. Bahan Polystyrene bisa membocorkan materi styrine ke dalam kuliner saat kuliner tersebut bersentuhan. Bahan Styrine berbahaya untuk otak dan sistem syaraf manusia. Bahan ini dibanyak negara potongan di Amerika sudah melarang pemakaian kawasan kuliner berbahan styrofoam termasuk negara cina.

Polystyrene merupakan polimer aromatik yang sanggup mengeluarkan materi styrene ke dalam kuliner saat kuliner tersebut bersentuhan. Selain kawasan makanan, styrene juga bisa didapatkan dari asap rokok, asap kendaraan dan materi konstruksi gedung. Bahan ini harus dihindari, alasannya selain berbahaya untuk kesehatan otak, mengganggu hormon estrogen pada perempuan yang berakibat pada duduk kasus reproduksi, dan pertumbuhan dan sistem syaraf, juga alasannya materi ini sulit didaur ulang. Pun bila didaur ulang, materi ini memerlukan proses yang sangat panjang dan lama. Bahan ini sanggup dikenali dengan instruksi angka 6, namun bila tidak tertera instruksi angka tersebut pada kemasan plastik, materi ini sanggup dikenali dengan cara dibakar (cara terakhir dan sebaiknya dihindari). Ketika dibakar,bahan ini akan mengeluarkan api berwarna kuning-jingga, dan meninggalkan jelaga.

Kode ini dikeluarkan oleh The Society of Plastic Industry pada tahun  KENALI KODE SEGITIGA PLASTIK

Other. Barang dengan instruksi ini bisa didapatkan di kawasan kuliner dan minuman menyerupai botol minum olahraga. Polycarbonate bisa mengeluarkan materi utamanya yaitu Bisphenol-A ke dalam kuliner dan minuman yang berpotensi merusak sistem hormon. Hindari materi plastik Polycarbonate.

Untuk jenis plastik 7 Other ini ada 4 jenis, yaitu:
1. SAN – styrene acrylonitrile,
2. ABS – acrylonitrile butadiene styrene,
3. PC – polycarbonate,
4. Nylon

Dapat ditemukan pada kawasan kuliner dan minuman menyerupai botol minum olahraga, sparepart mobil, alat-alat rumah tangga, komputer, alat-alat elektronik, dan plastik kemasan. SAN dan ABS mempunyai resistensi yang tinggi terhadap reaksi kimia dan suhu, kekuatan, kekakuan, dan tingkat kekerasan yang telah ditingkatkan. Biasanya terdapat pada mangkuk mixer, pembungkus termos, piring, alat makan, penyaring kopi, dan sikat gigi, sedangkan ABS biasanya digunakan sebagai materi mainan lego dan pipa.Plastik dengan jenis 7 yaitu SAN dan ABS merupakan salah satu materi plastik yang sangat baik untuk digunakan dalam kemasan kuliner ataupun minuman. Bagaimana jenis plastik dengan instruksi 7 serta goresan pena PC? PC – atau nama Polycarbonate sanggup ditemukan pada botol susu bayi, gelas anak batita (sippy cup), botol minum polikarbonat, dan kaleng kemasan kuliner dan minuman, termasuk kaleng susu formula. Dapat mengeluarkan materi utamanya yaitu Bisphenol-A ke dalam kuliner dan minuman yang berpotensi merusak sistem hormon, kromosom pada ovarium, penurunan produksi sperma, dan mengubah fungsi imunitas. Dianjurkan tidak digunakan untuk kawasan kuliner ataupun minuman. Ironisnya botol susu sangat mungkin mengalami proses pemanasan, entah itu untuk tujuan sterilisasi dengan cara merebus, dipanaskan dengan microwave, atau dituangi air mendidih atau air panas.

Dari Informasi diatas maka

1. Harus bijak dalam memakai plastik, khususnya instruksi 1, 3, 6, dan 7
(PC), seluruhnya mempunyai ancaman secara kimiawi. Gunakan hanya sekali
pakai.
2. Gunakan plastik dengan instruksi 2, 4, 5, dan 7 (SAN
atau ABS).

Satu lagi yang perlu diwaspadai dari penggunaan plastik dalam industri kuliner ialah kontaminasi zat warna plastik dalam kuliner contohnya kita sering membeli gorengan di pinggir jalan, suka minta sama penjualnya yang panas kemudian sesudah digoreng dimasukkan ke kantong kresek hitam. Ternyata zat pewarna hitam ini jikalau terkena panas, bisa terurai, terdegradasi menjadi bentuk zat radikal beracun yang berbahaya bagi kesehatan terutama sanggup mengakibatkan sel badan berkembang tidak terkontrol menyerupai pada penyakit kanker.

Tips buat kita semua bagi para orang renta yang masih memerlukan botol susu untuk putra-putrinya:

1.Pilih dan gunakan botol susu bayi berbahan kaca, atau plastik jenis 4 atau 5.
2.Gunakanlah cangkir bayi berbahan stainless steel, atau plastik jenis 4 atau 5.
3.Untuk dot, gunakanlah yang berbahan silikon, alasannya tidak akan mengeluarkan zat karsinogenik sebagaimana pada dot berbahan latex.
4.Cegah penggunaan botol susu bayi dan cangkir bayi (dengan lubang penghisapnya) berbahan jenis 7 PC (polycarbonate),
5.Jika penggunaan plastik berbahan polycarbonate tidak sanggup dicegah, janganlah menyimpan air minum ataupun kuliner dalam keadaan panas. Hindari penggunaan botol plastik untuk menyimpan air minum (biasa digunakan untuk kawasan air putih didalam kulkas).

Jika penggunaan botol plastik berbahan PET (kode 1) dan HDPE (kode 2), tidak sanggup dicegah, gunakanlah hanya sekali pakai dan segera dihabiskan. Gantilah dengan botol stainless steel atau gelas/kaca. Cegahlah memanaskan kuliner yang dikemas dalam plastik, khususnya pada microwave oven, bungkuslah terlebih dahulu kuliner dengan daun pisang atau kertas sebelum dibungkus dengan plastik pembungkus saat akan dipanaskan di microwave oven. Cegah memakai kemasan plastik untuk mengemas kuliner berminyak atau berlemak. Cobalah untuk mulai memakai kemasan berbahan kain untuk membawa sayuran, makanan, ataupun belanjaan. Cegah penggunaan piring dan alat makan plastik untuk masakan. Gunakanlah alat makan berbahan stainless steel, kaca, keramik, dan kayu.

# Berbagai sumber

Masalah Pengolahan Pangan Dan Gizi Di Indonesia

 Pengolahan pangan didefinisikan sebagai suatu perjuangan untuk mengubah materi pangan mentah me Masalah Pengolahan Pangan dan Gizi di Indonesia

1. Pengolahan pangan didefinisikan sebagai suatu perjuangan untuk mengubah materi pangan mentah menjadi materi lain yang berbeda dengan materi asalnya dalam hal sifat fisik, kimia, maupun mutu organoleptik.

Pengolahan bertujuan untuk:

a. menghindarkan kerusakan atau pembusukan yang berlebihan;

b. menghasilkan produk yang tahan lama, terutama untuk pangan yang akan disimpan atau diangkut dalam jarak jauh;

c. menghasilkan produk yang sesuai untuk pengerjaan lebih lanjut; dan

d. menghasilkan produk yang memenuhi kualitas dan persyaratan yang diminta pasar.

2. Pengolahan pangan diusahakan tidak merusak nilai gizi materi yang dikandungnya. Selama pengolahan sanggup terjadi aneka macam jenis kehilangan atau susut yang sanggup dikelompokkan ke dalam:

a. kehilangan yang disengaja, contohnya dalam pengolahan serealia di mana biji-bijian digiling untuk menghilangkan lapisan bran yang tidak diingini (misalnya penyosohan beras);

b. kehilangan yang tidak sanggup dihindarkan, contohnya bagi kuliner yang dimasak, dikalengkan, diblansir, dikeringkan atau disterilisasikan;

c. kehilangan yang semestinya sanggup dihindarkan, namun sebab kurangnya pengawasan terjadi kehilangan.

3. Tujuan utama pengolahan pangan yang bersifat mengawetkan yaitu untuk menghancurkan faktor-faktor perusak mutu pangan yang akan menurunkan nilai gizinya. Faktor-faktor perusak mutu pangan yang akan menurunkan nilai gizinya. Faktor-faktor perusak ini terutama adalah:

a. adanya kegiatan mikroorganisme, menyerupai bakteri, ragi, dan kapang;

b. adanya enzim;

c. kelembaban udara, sinar, dan oksigen;

d. adanya serangan oleh serangga, benalu atau tikus.

4. Pengolahan pangan tingkat rumah tangga bertujuan antara lain:

a. memudahkan bentuk pangan yang dikonsumsi serta menambah macam atau jenis makanan;

b. menjamin keamanan pangan;

c. meningkatkan kelezatan dan daya tarik dari pangan yang dikonsumsi.

5. Banyak cara yang sanggup dilakukan untuk mengawetkan atau memperpanjang masa simpan suatu pangan, tergantung dari jenis pangan itu sendiri. Beberapa di antaranya, yaitu:

a. pengawetan dengan suhu tinggi;

b. pengawetan dengan suhu rendah;

c. pengeringan;

d. pengawetan dengan radiasi;

e. pengawetan dengan memakai materi kimia.

6. Fermentasi sanggup terjadi sebab adanya kegiatan mikroba penyebab fermentasi pada substrat organik yang sesuai. Terjadinya fermentasi ini sanggup menjadikan perubahan sifat pangan, sebagai jawaban dari pemecahan materi yang terkandung dalam pangan tersebut. Fermentasi ditujukan untuk memperbanyak jumlah mikroba yang diinginkan dan menggiatkan metabolismenya di dalam makanan. Proses fermentasi ini akan meningkatkan mutu gizi produk pangan dibandingkan dengan materi asalnya.

# Berbagai sumber